Home » NewLife » Apakah Positive Thinking adalah Keyakinan yang Semu

Apakah Positive Thinking adalah Keyakinan yang Semu

positive thinking Apakah Positive Thinking adalah Keyakinan yang SemuKalau kita menghadiri sebuah seminar atau pelatihan yang ada unsur motivasinya, biasanya pembicara tersebut akan sedikit banyak menyinggung tentang pentingnya memiliki positive thinking dalam hidup ini.

Dalam tulisan kali ini, kita akan belajar tentang apakah kita harus menganut ajaran positive thinking ini, dan bagaimana penerapannya ketika kita menghadapi masalah yang besar yang sepertinya tidak ada jalan keluar, dan yang lebih penting lagi adalah, apakah Tuhan menghendaki agar kita mengandalkan positive thinking dalam hidup ini, atau hanya cukup berserah dan seluruhnya  mengandalkan kuasa dan mujisat dari Tuhan.

Positive Thinking yang meng-identikan dengan profil orang yang percaya diri dan mampu melakukan apapun sejauh apa yang mereka pikirkan. Benarkah itu…

Silahkan baca kelanjutannya…

Kita akan mulai membahasnya dari kitab Ayub, yaitu di:

Ayub 6:20
(20) tetapi mereka kecewa karena keyakinan mereka, mereka tertipu setibanya di sana.

Kita harus berhati-hati dengan yang namanya KEYAKINAN. Mengapa demikian?

Sebab, setelah kita set keyakinan kita kepada apa yang kita yakini, maka segala pikiran, jerih payah/usaha, waktu, energi bahkan materi yang dimiliki akan dikorbankan untuk mencapai apa yang kita yakini. Jangan sampai salah pilih keyakinan, karena kalau salah setibanya disana, maka akan banyaklah pengorbanan yang sia-sia.

Sebagai contoh:
Anda yakin sekali kalau wanita yang di idam-idamkan menjadi istri anda, maka hidup anda akan berbahagia. Untuk mencapai keyakinan itu anda pasti akan merelakan segala yang anda miliki untuk dikorbankan, malah banyak kejadian sampai rela meninggalkan Tuhan sekalipun alias pindah agama sekalipun dijabanin demi mendapatkannya. Namun apa yang sering terjadi, setelah tiba disana, setelah wanita itu menjadi istri anda, ternyata hidup anda tidak berbahagia, mulai ada percekcokan dan selisih paham dan prinsip di rumah tangga, sehingga berakhir dengan perceraian (yang semakin hari semakin mudah untuk dijadikan solusi untuk ditempuh).

Jadi bagaimana dong untuk memiliki keyakinan yang benar dan pasti tidak meleset dalam hidup kita. Ada jawabannya, di:

Galatia 5: 10
(10) Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapapun juga dia.

Ini berbicara tentang surat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, dimana Paulus memuji jemaat disana tentang  keyakinan yang benar yaitu keyakinan yang landasannya adalah Yesus Kristus.

Karena memang keyakinan yang landasannya bukan Kristus, akan berakhir dengan kekecewaan dan kesia-siaan. Jika hidup kita di dalam Kristus, maka Allah yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, Ia yang dapat memberikan keyakinan pada diri kita dan mampu mengubahkan walaupun kita salah.

Ada sebuah kejadian dimana Yesus mengajar Simon Petrus tentang arti sebuah keyakinan.

Lukas 22: 31-32
(31) Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, (32) tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

Tuhan Yesus memanggil nama Simon sampai dua kali, kenapa demikian? bukankah Yesus sendiri yang telah memberikan nama baru kepada Simon dengan sebutan Petrus ketika ia dipanggil untuk menjala manusia?

Ya betul, Yesus memanggil nama Simon, sebab keyakinan simon masih belum benar dan Ia mau mengajarinya. Buktinya apa?

Yesus bilang, Iblis telah menuntut kamu seperti gandum, artinya semua kita yang hidup di dunia ini, saat ini juga sedang di tampi oleh iblis, maksudnya hidup kita dilempar, dibanting, digojlok atau dikerjai oleg iblis, namun yang membedakan Anak Tuhan dan anak dunia adalah, Tuhan Yesus menyebut kita Gandum (berharga dimatanya, sebab jaman dulu gandum itu punya nilai uang yang sangat mahal), sementara anak dunia mungkin sebutannya sekam (kulit gandum), sebab ditampi iblis dan memang akan dibakar pada waktunya nanti.

Jadi siapa bilang kalau sudah jadi anak Allah, pasti hidupnya akan tidak ada masalah. Itu salah besar, yang benar adalah hidup kita akan sama saja dengan hidup orang lain yang ada di dunia ini, namun bedanya kita punya pengharapan yang pasti dan pertolongan Tuhan yang tidak pernah putus kepada kita untuk menyediakan jawaban atas semua masalah yang kita hadapi, asalkan kita senantiasa berpegang teguh pada keyakinan kita kepada Kristus.

Kita yang hidup didalam Kristus, dan Kristus hidup di dalam kita dalam rupa Roh Kudus, sudah seharusnya kita punya Iman.

Kembali ke bacaan diatas, Yesus berdoa untuk Simon dan termasuk kita semua anak-anakNya. Ada 3 poin yang di doakan Yesus untuk kita, yaitu:

1. Agar Iman kita jangan gugur
2. Agar Insaf kalau berbuah kesalahan
3. Agar kita menguatkan saudara-saudara kita

Banyak orang salah mengelamatkan kekecewaan kepada Tuhan, apa sebabnya?

Karena kita berdoa untuk meminta kepada Tuhan sesuai dengan  keyakinan kita (bukan keyakinan Tuhan), sehingga ketika tidak mendapatkan apa yang kita mau, kita punya alasan untuk marah, ngambek bahkan rela meninggalkan Tuhan.

Kita lanjutkan pembacaan kita tentang pengajaran Yesus kepada Simon.

Lukas 22: 33-34
(33) Jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!”(34) Tetapi Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Simon Petrus. Ia menjawab Yesus… bukankah Iman datangnya dari Pendengaran akan Firman Tuhan. Tapi yang dilakukan Petrus adalah sebaliknya, Tuhan ngomong apa, Petrus balesin apa yang dia yakini saat itu.

Kita harus berhati-hati menggunakan lidah dan mulut kita, sebab anak Tuhan, memiliki kuasa dengan kata-kata. Petrus bilang, dia siap masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau, dan apa yang terjadi selanjutnya…

Namun Yesus berkata lagi pada Petrus (lihat, kali ini yesus memanggil Peturs, bukan Simon lagi – ini terjadi bukan karena Yesus lupa ingatan, semua itu ada maksudnya). Yesus berkata bahwa Petrus akan menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok.

Apa yang telah dilakukan Petrus?
Ya betul, Petrus mengandalkan keyakinan pada dirinya, Petrus menjalankan prinsip Positive Thinking dalam menghadapi masalah yang akan datang. Tapi apa yang akan ia peroleh dengan keyakinan itu, selain kekecewaan setibanya disana..

Hal ini juga yang membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah, sebab Ia Maha Tahu akan suatu hal yang akan terjadi kedepan.

Benerkah Petrus menuai apa yang ia telah tabur dengan mengandalkan keyakinan dirinya dan Positive Thinkingnya? kita baca di:

Matius 26:74-75
(74) Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam.(75) Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

See… Petrus dengan mudahnya merubah keyakinannya, dengan cara malah benar-benar menyangkal Yesus sesuai dengan apa yang telah dipesankan kepadanya. Kejadian ini sangatlah singkat, Yesus berbicara pada malah setelah “Last Supper” dan Petrus menyangkalnya di pagi dini hari sebelum ayam berkokok.

Ingatlah! Betapa terbatasnya manusia, hanya Allah kita yang tidak pernah salah.

Jangan andalahkan keyakinan kita pada kepintaran kita, kekuatan tubuh kita, kecantikan/ketampanan paras wajah kita, kekayaan kita, tetapi hanya andalalkan keyakinan kita kepada Kristus. Gantungkanlah seluruh pengharapan kita di dalam Yesus Kristus.

Jangan pernah kita yakin pada sesuatu yang tidak bisa diandalkan….

Apa yang terjadi pada Petrus setelah menyangkal… kita baca selanjutnya di:

Kisah Para Rasul 12: 1-2
(1) Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat.(2) Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.

Sebelumnya kita melihat sekilas kejadian tentang Yakobus, saudara Yohanes yang ditangkap oleh Herodes dan sudah dibunuh oleh pedang.

Kisah Para Rasul 12: 5-6
(5) Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.(6) Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu.

Semua yang dikatakan Yesus menjadi kenyataan, dan terbukti Petrus pun di tangkap dan ditahan kedalam penjara karena Yesus. Tapi perbedaannya adalah kali ini Petrus menghadapi masalah yang ada dengan Iman kepada Yesus, dan bukan dengan mengandalkan keyakinan dirinya lagi.

Coba perhatikan tulisan ayat diatas, disaat itu, Petrus sudah tahu bahwa Yakobus saudara Yohanes sudah mati dibunuh Herodes, dan besok pagi adalah jadual Petrus akan dibawa kepada orang banyak dan akan dihukum mati. Apakah aneh menurut anda, kok Petrus bisa tidur didalam penjara malam itu?

Inilah perbedaan yang mendasar antara Iman dengan Keyakinan diri alias Positive Thinking..

Berdoa dengan keyakinan, mungkin bunyinya aku yakin aku mampu/kuat menghadapi kematian ini.

Berdoa dengan Iman, aku yakin aku akan diselamatkan oleh Tuhan.

Contoh lain dalam doa kita yang suka bercampur dengan keyakinan kita, seperti:

* Aku ingin kaya, supaya bahagia Tuhan
* Aku ingin pintar, supaya bisa kaya dan bahagia Tuhan
* Aku ingin tampil cantik, supaya dapat suami kaya yang bisa membahagiakan aku Tuhan
* Aku ingin bisnis, supaya kaya dan bahagia Tuhan

Bukankah ini yang sering keluar dari mulut kita, Akunya didepan dan Tuhannya dibelakang. Keyakinan kita mendahului keyakinan Tuhan.

Apa yang terjadi selanjutnya dengan Petrus…

Kisah Para Rasul 12: 7
(7) Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.

Inilah bukti bahwa Iman itu tidak pernah menipu dan tidak mengecewakan. Iman yang mampu melepaskan kita dari belenggu. Iman tidak hanya menyelesaikan satu masalah, namun menyelesaikan masalah kita secara terus menerus sesuai rencana Tuhan dalam hidup kita.

Banyak kejadian yang sering terjadi dalam hidup kita, dimana padahal pertolongan Tuhan sudah datang, doa kita sudah dijawab oleh Tuhan, namun ada lagi kendala klasik, yaitu Iman mulai tercampur lagi dengan keyakinan.

Maksudnya begini, setelah belenggu Petrus gugur (lepas dari tangannya), kalau orang pada umumnya, apa yang dilakukan tahanan ketika borgolnya lepas?

Pasti jawabannya kabur secepat kilat menghilang atau bersembunyi. Tapi apa yang dilakukan Petrus.. kita baca di :

Kisah Para Rasul 12: 16-17
(16) Tetapi Petrus terus-menerus mengetuk dan ketika mereka membuka pintu dan melihat dia, mereka tercengang-cengang.(17) Tetapi Petrus memberi isyarat dengan tangannya, supaya mereka diam, lalu ia menceriterakan bagaimana Tuhan menuntunnya ke luar dari penjara. Katanya: “Beritahukanlah hal ini kepada Yakobus dan saudara-saudara kita.” Lalu ia keluar dan pergi ke tempat lain.

Ya benar, Petrus selepas dari penjara, ia pulang ke rumah (aneh bukan ya..)

Petrus bahkan mengetuk-ngetuk pintu berkali-kali sampai saudaranya tercengang.

Kenapa Petrus kembali ke rumah saudara-saudaranya?
Sebab Petrus ingat perkataan Tuhan Yesus sebelum ia menyangkalnya tiga kali, yaitu Kuatkanlah saudara-saudaramu. Saat itu, hidup Petrus sudah insaf, ia mengakui kesalahannya dan kembali meletakkan pengharapannya kepada Yesus, lalu iman Petrus pun tidak gugur lagi walaupun ditengah masalah, dan yang ketiga adalah ia diminta untuk menguatkan iman saudara-saudaranya.

Satu lagi yang penting, ketika saudara-saudaranya melihat Petrus, keadaan jadi ribut, makanya Petrus memberi isyarat dengan tangannya supaya mereka diam. Ini dilakukan bukan karena Petrus takut nanti dilaporin tentangga ke Herodes, tapi Petrus mau mengajarkan kepada saudara-saudaranya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, yaitu bukannya mendengar perkataan Allah, malah lebih banyak berbicara seperti yang dialaminya dulu bersama Yesus.

Saat itu Petrus menguatkan saudara-saudaranya bukan dengan keyakinan diri bisa bebas dari penjara, juga bukan dengan Positive Thinking dan motivasi, tapi Petrus menguatkannya dengan menceritakan pengalaman imannya berjalan bersama Allah, menjadi saksi atas perbuatan Allah yang ajaib terhadap dirinya.

Dan itulah inti dari perbuatan iman kita, yaitu menjadi saksi tentang Yesus Tuhan kita.

Ayat terakhir untuk menguatkan kita

1 Yohanes 5:4
(4) sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

Semua orang yang sudah menjadi Anak-Anak Allah, yang sudah menerima Baptisan dan yang sudah bersatu dengan Tubuh dan Darah Kristus telah diberi kuasa untuk mengalahkan dunia. Dan cara mengalahkannya adalah dengan Iman, bukan keyakinan.

Kuasa yang kita miliki untuk mengalahkan musuh-musuh kita, yaitu:

* Masalah Kesehatan
* Masalah Perekonomian
* Masalah Kebahagian
* Dan semua masalah yang kompleks yang tidak bisa kita pikirkan solusinya.

Jadi, jangan mengandalkan keyakinan kita atas diri sendiri, juga bukan karena menerapkan Prinsip Positive Thinking kita akan hidup sukses dan penuh dengan kemenangan, karena ujung dari smeua itu hanyalah kekecewaan, sakit hati dan kesia-siaan. Namun andalakan Tuhan sebagai landasan yang tepat untuk keyakinan / iman kita.

Salam Damai Sejahtera,

Augustinus

* Tulisan disadur dari kotbah Minggu 2Oct2011 oleh Ketua Sinode Gereja Kemah Tabernakel Pluit Village Jakarta, Bp. Handoyo Santoso.

 

2 Responses to Apakah Positive Thinking adalah Keyakinan yang Semu

  1. Salam,
    Terimakasih artikelnya. Inspiratif. Positive thinking didasarkan atas iman bahwa TUHAN itu BAIK dan CINTA. Begitu ya pak?
    salam kenal.
    agust prabowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>