Bagaimana Cara Menghilangkan Kebiasaan Buruk yang sering Menghambat Berkat
| March 3, 2012 | Posted by Augustinus Widjaya under NewLife |
Kebiasaan setiap orang adalah berbeda-beda. Kebiasaan berasal dari proses yang cukup panjang sebelum akhirnya terbentuk menjadi kebiasaan yang kita jalani setiap hari.
Kebiasaan bisa manjadi baik dan buruk sangat bergantung dari mana kita melihatnya, menurut orang lain kebiasaan kita buruk tapi belum tentu kita setujui, sebab mungkin saja kebiasaan itu yang paling pas dengan keadaan kita saat ini.
Kebiasaan datang dari aktifitas yang kita lakukan secara berulang-ulang. Aktifitas atau action kita berasal dari apa yang kita pikirkan dan perkatakan setiap harinya. Dan pikiran itu semua berawal dari kata hati yang sering didengarkan dan dituruti oleh otak kita. Jadi semua berawal dari hati.
Apakah kebiasaan kita yang buruk bisa dirubah? apa saja bentuk kebiasaan buruk yang sering kita lakukan baik itu sengaja ataupun tidak sengaja? apakah kebiasaan buruk itu sepenuhnya terjadi karena salah kita sendiri?
Mari kita pelajari lebih lanjut …
Kita buka dan baca ayat dari Yakobus 5:9
(9) Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.
Ini adalah surat untuk Saudara-saudara yang artinya sesama anak Tuhan. Jangan suka bersungut-sungut atau grumbling atau ngomel dan menggerutu, apalagi menyalahkan kepada sumber yang tidak jelas. Kebiasaan buruk orang dunia adalah ngomel, menggerutu dan mulai mempersalahkan orang lain.
Tapi anak Tuhan bisa lebih parah lagi, karena selain bersungut-sungut, lalu mulai mencari kambing hitam orang lain untuk dipersalahkan, lalu berakhir dengan menyalahkan Tuhan untuk semua yang tidak baik dalam hidupnya.
Orang dunia paling mentok salahkan orang lain, anak Tuhan bisa salahkan Tuhan. Luar biasa ya…
Padahal orang yang bersungut-sungut adalah salahnya diri sendiri. Sumbernya adalah dari dalam kita sendiri, yaitu mengharapkan sesuatu yang salah dan menyikapi keadaan yang tidak berjalan sesuai harapan.
Awalnya Hawa yang pertama disalahkan oleh Adam karena memakan buah yang terlarang, lalu Hawa menyalahkan Ular yang telah membujuk, tapi pada akhirnya keduanya jatuh dalam dosa.
Tuhan memberikan jalan keluar, bukan ikut-ikutan menyelidiki dan menyalahkan seseorang baik Adam / Hawa.
Apa buktinya anak Tuhan akhirnya salahkan Tuhan… kita baca ayat dibawah ini..
Bilangan 14: 27-30
(27) Berapa lama lagi umat yang jahat ini akan bersungut-sungut kepada-Ku? Segala sesuatu yang disungut-sungutkan orang Israel kepada-Ku telah Kudengar.(28) Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu.(29) Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku.(30) Bahwasanya kamu ini tidak akan masuk ke negeri yang dengan mengangkat sumpah telah Kujanjikan akan Kuberi kamu diami, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun!
Jadi kalo orang dunia menggerutu dan paling salahkan orang lain, tapi kalau anak Tuhan menggerutu dan bisa-bisanya sering salahkan Tuhan.
Tuhan mendengar semua gerutu kita dan Tuhan bisa melakukan sesuatu yang kita gerutuin sebagai hukuman kepada kita.
Orang Israel yang usia diatas 20 tahun, tidak akan masuk tanah perjanjian yaitu Kanaan, bukan karena tidak bisa mengalahkan tantangan yang ada di depan kita, tapi karena kita bersungut-sungut dalam menghadapi tantangan, sehingga apa yang kita katakan ketika sedang menggerutu, maka itulah yang akan terjadi.
Sebenarnya apa sih yang mereka gerrutui sampai Tuhan murka?
Bilangan 14: 1-3
(1) Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu.(2) Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!(3) Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?”
Dari bacaan diatas, bisa kita lihat bahwa orang yang suka bersungut-sungut suka lepas kendali dan tidak bisa mengontrol perkataan yang keluar dari mulutnya.
Bukan karena Tuhan yang pilih kasih atau kejam kalau ada anak Tuhan yang berhasil dan ada yang gagal, tapi karena Tuhan yang mengabulkan perkataan yang keluar dari mulut orang yang bersungut-sungut.
Orang yang bersungut-sungut sudah tidak waras, logikanya sudah tidak jalan dan suka terbalik-balik dan mudah untuk meninggalkan imannya.
Tapi kenapa Kaleb dan Yosua bisa bebas dari hukuman Tuhan..?
Bilangan 14: 35-38
(35) Aku, TUHAN, yang berkata demikian. Sesungguhnya Aku akan melakukan semuanya itu kepada segenap umat yang jahat ini yang telah bersepakat melawan Aku. Di padang gurun ini mereka akan habis dan di sinilah mereka akan mati.”(36) Adapun orang-orang yang telah disuruh Musa untuk mengintai negeri itu, yang sudah pulang dan menyebabkan segenap umat itu bersungut-sungut kepada Musa dengan menyampaikan kabar busuk tentang negeri itu,(37) orang-orang itu mati, kena tulah di hadapan TUHAN.(38) Tetapi yang tinggal hidup dari orang-orang yang telah pergi mengintai negeri itu hanyalah Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune.
Orang yang bersungut-sungut akan mendapat hukuman setelah sungut-sungut mereka sampai ke Tuhan.
Tetapi orang yang jadi pemicu atau provokator agar orang lain bersungut-sungut, maka Tuhan yang pertama kali akan menghukum, buktinya 10 orang pengintai itu langsung mati kena tulah.
Memangnya apakah salah 10 pengintai tersebut?
Bilangan 13: 27,28,31-33
(27) Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya.(28) Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.(31) Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.”(32) Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya.(33) Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.”
Kesalahan 10 pengintai itu adalah:
Pertama, mereka melihat berkat – berlimpah susu dan madunya seperti yang dijanjikan oleh Tuhan.
Kedua, mereka melihat musuh – ada kendala dan tantangan, lawannya orang yang lebih kuat.
Ketiga, mereka melihat diri sendiri – mengangap diri seperti belalang yang tidak punya kekuatan sama sekali.
Lalu apa yang dilakukan Kaleb dan Yosua sehingga tidak dipersalahkan Tuhan?
Bilangan 14: 6-9
(6) Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya,(7) dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.(8) Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.(9) Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.”
Kejadian yang sama dialami oleh Kaleb dan Yosua, namun apa yang respon malah berbeda, yaitu:
Pertama, mereka melihat berkat (sama seperti ke-10 pengintai lainnya).
Kedua, mereka melihat Tuhan – mereka berkata, jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Tuhan sendiri yang akan membawa kita masuk ke negeri itu.
Ketiga, baru melihat kondisi sendiri – jangan bersungut-sungut menghadapi masalah, apalagi takut pada problem yang ada.
Jadi akar permasalahnya adalah perbedaan perspektif dan respon yang diberikan dalam menghadapi segala sesuatunya.
Terkadang kita melihat berkat, lalu lihat musuh dan mulai melihat diri sendiri (mengukur) dan suka lupa melihat kepada Tuhan.
Seharunya lihat Tuhan dulu, sebab Dia yang mneyediakan berkat dan Tuhan juga yang akan menyediakan kekuatan untuk menyelesaikan berkat yang diberi. Dan Tuhan juga yang akan melindungi kita kalao ada musuh.
Kesimpulannya:
1. Lihat Berkat
2. Lihat Tuhan
3. Lalu Tuhan yang lihat dan selesaikan semua musuh kita
Tuhan janji akan mengajak kita ke tanah perjanjian (Kanaan), tapi Tuhan tidak pernah kasih tahu lewat mana. Bahkan tragisnya adalah Musa sendiri tidak bisa masuk ke tanah perjanjian tersebut.
Kalau kita punya masalah dan selalu pasti ada, cara mengatasinya adalah:
Berdoa: berseru kepada Tuhan dengan alamat yang benar dan berdiskusi untuk mencari solusi untuk masalah yang ada,
bukannya,
Bersungut-sungut: dengan alasan yang tak jelas, lalu mulai menyalahkan orang lain alias mencari kambing hitam.
Salam Damai Sejahtera,
Augustinus
* Tulisan disadur dari kotbah Ibadah Minggu 16 Oktober2011 oleh Ketua Sinode Gereja Kemah Tabernakel Pluit Village Jakarta, Bp. Handoyo Santoso.













Sangat berguna sekali nih informasinya salam kenal gan…